Thursday, December 27, 2018

Sasaran Akhlak Baik Kita.

Tulisan Harian Santri - Dalam ajaran agama, akhlak tidak dapat di samakan dengan etika. Menurut Muhammad Quraish Sihab dalam bukunya, wawasan Al-Qur’an, etika pengertiannya di batasi pada sopan santun sesame manusia. Dan hanya bersangkutan dengan tingkah laku lahiriyah. Adapun akhlak lebih luas lagi pengertiannya dari penjelasan sebelumnya. Selain itu, akhlak mencakup pula beberapa hal yang tidak merupakan sifat lahiriyah. Misalnya yang berkaitan dengan sikap batin atau fikiran.
Akhlak yang terdapat dalam agama ( Diniah ) meliputi berbagai macam asspek, mulai dari akhlak terhadap Allah, akhlak terhadap sesame manusia, Sampai akhlak terhadap makhluk Allah lainnya. ( Binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda tak bernyawa lainnya ). Sasaran akhlak dalam ajaran islam dapat di jelaskan sebagai berikut :

1.     Akhlak terhadap Allah Ta’ala.

Akhlak terhadap Allah Ta’ala. Merupakan pengakuan dan kesadaran diri kita bahwa tiada tuhan melainkan Allah. Allah memiliki sifat-sifat terpuji. Sifat-sifat tersebut demikian agung. Tidak ada satupu di antara kita yang mampu menyamai Nya. Bhakan malaikat pun tidak akan sannggup menjangkau hakikat Nya. Oleh sebab itu, Al-Qur’an mengajrkan kita untuk memuji Nya, sebagaimana yang di jelaskan dalam surat An-Naml Ayat 93.

2.      Akhlak terhadap sesama manusia.

Di dalam Al-Qur’an, banyak sekali perincian yang berkaitan dengan perlakuan terhadap sesama manusia. Perincian tersebut di kemukakan bukan hanya bentuk larangan melakukan hal-hal negatif dalam bentuk yang nyata, seperti membunuh, menyakiti badan, mengambil harta orang lain tanpa alasan yang benar, tetapi juga termasuk menyakiti hati orang lain. Al-Qur’an melarang kita menceritakan aib seseorang di belakang, tidak peduli aib itu benar atau salah keberadaannya. Kita juga tidak boleh menyakiti hati orang lain walaupun sambil memberikan materi kepada orang yang kita sakiti hatinya tersebut. Berikut ini penjelasannya dalam Al- Qur’an surah Al – Baqarah ayat 263.

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari pada sedekah yang di iringi tindakan yang menyakiti. Allah Maha Kaya, Maha Penyantun.
( QS AL-Baqarah {2} 263 )



Juga Surah Al-Hujurat ayat 11 dan 12.

Wahai orang-orang yang beriman ! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, Karena boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-olok, dan janganlah perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan yang lain, karena boleh jadi perempuan yang di perolok-olokkan lebih baik dari perempuan yang di perolok-olok. Janganlah kamu mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah yang paling buruk ( fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.

Wahai orang-orang beriman ! jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan jangan lah ada sebagian kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati ? tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, Sungguh Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang.
( QS Al Hujurat {49} 11-12 )

Islam juga mengajarkan akhlak yang baik kepada kita untuk saling hidup saling melengkapi, tolong-menolong, dan kasih mengasihi, Hal tersebut di je;askan di dalam Al-Qur’an Surah An Nur ayat 22.

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan diantara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kaum kerabatnya, orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah meraka mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu ? Dan Allah Maha Pengampun, Maha penyayang.”
( QS An Nur {24} 22 )

 
3.      Akhlak terhadap Lingkungan.

Akhlak Terhadap lingkungan yang di maksud pada penjelasan ini adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa. Pada dasarnya, akhlak yang di anjurkan dalam Al- Qur’an terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah di muka bumi. Kekhalifahan tersebut menuntut manusia untuk melakukan interaksi antara manusia dan sesamanya serta terhadap alam sekitar. Dalam hal ini, kekhalifahan mengandung arti bahwa manusia harus berperan sebagai pengayom, pemelihara, dan pembimbing, sehingga setiap makhluk dapat mencapai tujuan penciptanya. Allahu ‘alam.
Semua yang hadir di muka bumi, seperti binatag, tumbuhan, dan benda-benda tak benyawa lainnya adlah ciptaan Allah. Semua mkhluk tersebut berada dalam kekuasaan Nya, dan semuanya memiliki ketergantungan kepad Nya. Keyakinan tersebut dapat mengantarkan kita sebagai seorang muslim untuk menyadari bahwa semuanya itu adalah umat Allah, yang harus di perlakukan secara wajar dan sebaik-baiknya.
Bedasarkan pandangan islam, setiap manusia tidak di benarkan untuk mengambil buah sebelum matang atau memetic bunga sebelum mekar, karena hal ini berarti tidak memberi kesempatan pada makhluk lain untuk mencapai tujuan penciptaanya. Itu artinya, setiap manusia di tuntut untuk mampu menghormati proses-proses yang sedang berjalan di lingkungannya. Dengan demikian, manusia dapat di katakan, sedang ber akhlaqul karimah terhadap lingkungan karena tidak melakukan kerusakan. Setiap perusakan terhadap lingkungan yang di lakukan oleh manusia, seharusnya di tinjau oleh manusia itu sendiri sebagai perusak terhadap diri nya.




( Sumber : Buku Meneladani Akhlak Para Sahabat Rasulullah )

Monday, December 24, 2018

HIKMAH DAN HUKUM MENIKAH.

Tulisan Harian Santri - Diantara hikmah di syariatkannya pernikahan adalah demi menjaga kehormatan, sebagai sarana berkembang biak, dan penjagaan terhadap keberadaan dan eksistensial manusia, membentuk keluarga yang dengannya akan mendatangkan kebahagian dan ketenangan, sebagai wadah dari sifat alami manusia yang yang membutuhkan pasangan, dan hikmah – hikmah lainnya. Yang jelas, adanya pernikahan merupakan sesuatu yang tidak bias di nafikan dan di pungkiri keberadaannya. Dan manusia yang punya akal sehat tentu akan menerimanya dan mengerti betapa pentingnya pernikahan bagi kehidupan manusia.

HUKUM MENIKAH.

          Adapun hokum menikah bisa berbeda tergantung situasi dan kondisi dari individu yang bersangkutan. Para ulama membagi hukum menikah menjadi beberapa macam. :

1.      Wajib.
               Menikah menjadi wajib bagi pelakunya, jika ia yakin tidak mampu menjaga kehormatannya ( bahkan dengan cara berpuasa ), serta khawatir akan terjerumus kepada perbuatan yang di haramkan jika ia tidak menikah. Dan ia juga mampu melakukannya, mampu menfkahi istrinya lahir batin, mampu membayar mahar,  baik memberikan hak – hak istri, dan lain sebagainnya. Maka bagi orang yang seperti ini, hokum menikah menjadi wajib demi terjaganya ia dari perbuatan yang di haramkan.

2.      Haram.
                Menikah menjadi haram bagi orang yang hendak melakukannya, jika ia yakin dirinya akan mendzalimi pasangannya atau bahkan membahayakannya. Seperti seorang laki – laki yang memiliki penyakit kelamin, atau laki – laki yang yakin tidak akan mampu menunaikan kewajibannya sebagai suami setelah menikah, dan sebagainya. Termasuk yang diharamkan juga adalah seorang suami yang yakintidak akan mampu berbuat adil jika ia menikah lagi ( poligami ).

                Bagaimana jika terjadi pertentangan antara kewajiban menikah dan keharaman melaksanakannya?. Seperti seseorang yang yakin akan terjerumus pada zina, namun di saat bersamaan ia juga yakin bahwa ia akan berbuat dzalim kepada pasangannya?. Para Ulama menjelsakan bahwa dalam hal ini ia haram untuk menikah. Karena ketika berkumpul yang halal dengan yang haram, maka yang haramlah yang harus di menangkan. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’alaa :  

“ Dan orang – orang yang tidak mampu menikah, hendaklah menjga kesucian dirinya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia Nya… “
( QS. An – Nur [24] : 33 )

3.      Makruh.

              Makruh bagi seseorang untuk menikah ketika dirinya khawatir terjerumus kepada perbuatan dosa, namun ia masih mampu menahannya. Dan ia khawatir tidak mampu menunaikan hal – hal yang menjadi hak bagi pasangannya, seperti nafkah, pergaulan yang baik,, dan sebagainya.

4.      Sunnah.

              Menurut jumhur Ulama, dianjurkan menikah bagi seseorang ketika ia tidak punya kekhawatiran akan terjerumus pada perbuatan haram ( Zina dan lain sebagainya ), serta masih mampu menjaga diriya, dan ia mampu memenuhi kriteria menikah. Sedangkan menurut madzhab Syafi’I, orang yang  berada dalam kondisi ini hukumnya mubah atau boleh melakukan pernikahan, dan bukan Sunnah.

             Para Ulama menyatakan bahwa lebih utama bagi orang mampu untuk menikah. Kecuali orang – orang yang di sibukkan dengan amal – amal ibadah atau belajar ilmu – ilmu Syar’I. Karena dengan menikah, sesorang akan lebih terjaga kehormatannya, dan menjauhkannya dari perbuatan keji.

Cara Seseorang memiliki akhlak yang baik.

Tulisan Harian Santri - Bagaimana seseorang memiliki akhlak yang baik dan mampu menjaga akhlak tersebut ?. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali kita menemui akhlak yang baik ( akhlaqul karimah ) yang patut di teladani dan di amalkan. Selain itu, banyak juga akhlak yang buruk ( akhlaqul mazmumah ) yang harus kita jauhi dan di hindari. Akhlak yang baik berpangkal dari ketakwaan kepada Allah Ta’ala di manapun kita berada. Disamping itu, akhlak yang baik merupakan suatu perwujudan perilaku dari kemampuan kita menhan hawa nafsu dan memiliki rasa malu terhadap orang lain.

Apabila kita ingin memiliki akhlak yang baik, kita harus rajin menimbang setiap perbuatan dengan hati nurani yang bersih. Salah satu tanda akhlak yang baik adalah ketika kita melakukan suatu perbuatan, kita merasakan ketenangan jiwa. Akan tetapi, jika kita merasakan hal yang sebaliknya maka perbuatan yang kita lakukan tersebut merupakan isyarat akhlak buruk. Berikut ini beberapa akhlak yang baik sebagai pribadi seorang muslim di manapun kita berada.

1.      Amanah ( Dapat di percaya dan tanggung jawab )
2.      Bersikap baik hati dan gemar menolong.
3.      Berprasangka baik dan ( berkhusnudzon. )
4.      Empati terhadap penderitaan orang lain.
5.      Jujur.
6.      Menjauhi perbuatan dan perkataan sia-sia.
7.      Selalu sabar dan tidak mudah marah.
8.      Sering Taubat kepada Allah Ta’ala.
9.      Toleransi dan bersikap lapang dada.
  .  Zuhud ( Tidak rakus pada nikmat dunia dan segala kemewahannya. )

Contoh-contoh akhlak yang baik tersebut tentu sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, namun sangat jarang diantara kita yang melakukannya secara sungguh-sungguh. Sekarang, marilah kita membiasakan diri untuk melakukannya, baik di lingkungan sekolah maupun rumah. Apabila dalam kehidupan sehari-hari kita selalu membiasakan diri untuk berakhlak baik, Allah dengan segala kasih sayang Nya senantiasa akan lebih dekat dengan kita, serta memudahkan semua doa dan ikhtiar kita. Ketika kita sudah memilikinya, selanjutnya tugas kita adalah menjaganya, jangan sampai ternoda atau terganti oleh akhlak yang buruk.

Akhlak yang di Cintai dan dilakukan Rasulullah Saw.

Tulisan Harian Santri - Rasulullah saw merupakan manusia yang memiliki akhlak sempurna sebagai teladan bagi kita semua. Oleh sebab itu, kita bagai seorang muslim yang mengaku mencintai beliau harus meniru akhlak baik beliau. Salah satu contoh akhlak beliau adalah mencintai fakir miskin dan anak-anak yatim, serta berbuat baik kepada setiap orang meskipun mereka bukan beragama islam. Dalam ajaran islam, kita diajarkan bahwa pada dasarnya manusia mempunyai kedudukan yang sama di mata Allah Ta’ala. Surah An-Nisa ayat 1 menyebutkan bahwa manusia berasal dari nenek moyang yang sama. Berdasarkan ayat tersebut, Rasulullah saw, mengajarkan kita untuk selalu berhubungan baik dengan orang lain karena kita semua adalah saudara.

Wahai manusia ! bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu ( Adam ) dan Allah mencptakan pasangannya ( hawa ) dan dari dirinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan namaNya kamu saling meminta dan peliharalah hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.
( QS An-Nisa {4}; 1 )

Kemudian Al-Qur’an surah Al-Hujurat Ayat 13 menyebutkan bahwa kedudukan dan derajat manusia sesungguhnya di tentukan oleh derajat takwanya kepada Allah Ta’ala. Firman Allah tersebut berbunyi sebagai berikut. :

Hai manusia ! Sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah, Maha Mengetahui, Maha Teiliti.
( QS Al-Hujurat {49} : 13 )

Berbagai sikap dan mengagungkan suku, ras maupun golongan merupakan sikap orang-orang pada zaman jahiliyah ( kebodohan ) yang sangat ditentang oleh islam. Oleh karena itu, bersikap baik kepada siapa saja harus kita lakukan setiap hari karena itu merupakan perbuatan yang dicintai dan dilakukan oleh Rasulullah Saw.

Saturday, November 3, 2018

Jodoh.

         Tulisan Harian Santri - Seorang pria yang sudah berumur mulai gusar, di umurnya yang sudah lewat 30 tahun ini, dia belum juga mendapatkan jodoh. Tekanan dari orang tua, saudara, dan teman-temannya untuk segera menikah membuatnya semakin sedih dan merasa rendah diri.
Begitulah keadaan kita ketika jodoh tak kunjung datang, terkadang kita merasa ada yang salah dengan diri kita, tak sedikit pula yang mencaci dirinya sendiri dan tidak mensyukuri apa yang telah Allah Swt berikan kepada kita.

Karena sudah tidak menemukan jalan yang tepat untuk mendapatkan jodoh, akhirnya pria ini datang ke tempat seorang ustad guna meminta saran dan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapinya.
Singkat cerita sang pria mengutarakan maksud kedatangannya, yaitu untuk mendapatkan jodoh, dia meminta kepada sang ustad agar mendoakannya supaya cepat mendapatkan jodoh.
Sang ustad kemudian memintanya untuk bersedekah (sodaqoh) agar jalan untuk mendapatkan jodohnya terbuka, sang pria yang polos ini spontan mengeluarkan uang yang ada di dompetnya untuk menyedekahkan semuanya kepada sang ustad.
Namun sang ustad bertanya kepada pria ini, "mau jodoh yang cantik apa jelek?", sang pria tentu saja menjawab yang cantik (manusiawi), lalu sang ustad berkata "kalau mau jodoh yang cantik, sedekahnya kurang nih, tambah lagi donk". 


Sang pria yang tidak membawa uang lagi kemudian terdiam, dia lalu mengingat-ingat sisa uang di rumahnya dan kemudian berkata kepada ustad bahwa dia akan pulang dan mengambil uang di rumahnya guna menambah jumlah sedekahnya, dia langsung lari dari tempat ustad tersebut, hal itu membuat sang ustad tertawa karena tingkah polos sang pria.
Yah memang ketika kita menginginkan sesuatu dan hal itu adalah hal yang penting, terkadang kita agak lupa diri dan kehilangan kendali, jadi tingkah konyol kita mungkin akan segera keluar ketika kita mengalami hal seperti itu.
Sementara menunggu sang pria datang kembali, sang ustad ternyata kedatangan tamu lagi, yang datang adalah seorang perempuan dan ternyata dia memiliki masalah yang sama, yah dia adalah seorang wanita yang sudah cukup umur untuk menikah, namun sayangnya dia belum menemukan jodoh yang tepat untuk dirinya. 

Sedang asik-asiknya konsultasi, terdengar suara ketukan pintu dari luar, setelah dipersilakan masuk ternyata yang datang adalah pria tadi yang pulang mengambil uang guna menambah jumlah sedekahnya. 

Setelah masuk ke dalam ruangan kemudian sang ustad tersenyum, dia berkata kepada kedua orang tadi, "kalian sama-sama cari jodoh kan? Udah gak usah nyari lagi, udah ketemu, tinggal kenalan aja terus tentuin waktu yang tepat buat menikah". 

Ternyata jodoh yang dicari pria tadi ada di tempat sang ustad dan dia juga sedang mencari jodoh juga, jadi tuh langsung mendapatkan jodoh setelah bersedekah.

Tapi bayangkan coba, kalau sang pria yang bersedekah tadi pelit seperti kita (saya aja kali yah, anda tidak), ketika sang ustad meminta supaya jumlah sedekahnya ditambah dan dia tidak mau, kayaknya dia belum menemukan jodohnya di tempat sang ustad.

Namun karena dia bergegas pulang mengambil uang maka sekembalinya dari rumah jodohnya sudah disediakan oleh Allah Swt di tempat sang ustad, yah cinta memang terkadang sulit dipahami.
Untuk kita yang saat ini susah mendapatkan jodoh, bukan pacar loh yah, coba deh benerin ibadah kita, berdo'a yang khusyuk, tambah dengan sedekah, niscaya pintu jodoh akan segera terbuka dengan mudahnya.


Sumber dari AMPLI ( Asosiasi Mahasiswa Pecinta Literasi ) Oleh kang As Muda.

Thursday, November 1, 2018

Amalan Agar Kuat Untuk Menjaga Al - Qur'an

          Tulisan Harian Santri - Demi meraih predikat terbaik sebagai ahli Al - Qur'an, para penghafal mestilah menjaga ayat-ayat suci yang telah terpatri dalam sanubari. Para Ulama menghadirkan amalan pasca hafalan sebagai kiat terbaik dalam menjaga ayat-ayat Al-Qur'an yang telah tertanam dalam jiwa. Ini penting di urai karena Al -Qur'an sendiri membagi kriteria penghafal pada 3 klarifikasi utama berikut :



1. Penghafal Yang Dzalim.

          Ini adalah jenis penghafal yang sangat di cela, tidak mampu menjadikan ayat Al -Qur'an yang telah di hafal sebagai penunjuk hidupnya. Golongan pertama ini di sebut Al -Qur'an dengan yang paling merugi.


وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

" Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. "
( QS Al Isra' Ayat 82 )



2. Penghafal Muqtashid.

          Yaitu penghafal yang belum mampu beramal sempurna berdasar ayat yang telah di hafal, baru sekedar mengulang dan menerapkan untuk pribadi. Adapula yang memahami golongan ini sebagai pertengahan amal yang sebanding antara Shaleh dan salahnya.


3. Penghafal Yang Mampu Berbagi ( Sabiqun Bil Khairaat ).

          Ini adalah golongn terbaik dari kalangan ahli Al -Qur'an. Selain hafal, golongan ini juga mampu berbagi dan mengamalkan Ayat-ayat yang telah di hafal, dengan izin Allah Ta'alaa.
Tiga klarifikasi di atass terurai dalam Al- Qur'an Surat Fathir Ayat 32 Berikut :


ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ


Artinya : " Kemudian kitab itu kami wariskan kepada kalangan yang kami pilih di antara hamba kami. Di antara mereka ada yang dzalim, ada yang pertengahan, juga ada pula yang terdepan berbuat kebaikan dengan izin Allah. Demikian itu ialah karunia yang amat besar. "
 ( QS.Fathir : 32 )

Diantara kiat terbaik dalam hal menjaga hafalan Al - Qur'an ialah amalan - amalan berikut :

      1. Konsisten Muraja'ah.

          Hendaknya ahli Al - Qur'an konsisten dalam bermuraja'ah serta disiplin menjalaninya. Pengulangan satu juz perhari adalah yang paling ringan umtuk para Huffadz sehingga mampu menjaga 30 Juz setiap bulan. Bila mampu bermuraja'ah lima juz dalam sehari maka itu yang terbaik. Pola ini dapat di mulai di hari sabtu hingga berakhir di hari kamis. Adapun Jum'at di khususkan untuk berdo'a.


      2. Menjaga Shalat Malam.

           Ini adalah amalan khusus yang menjadi pertanda ahli Al - Qur'an. Para salaf terbaik hampir tidak pernah meninggalkan Shalat Malam. Mereka begitu menikmati amalan ini bahkan menjadikan sebagai amalan penguat hafalan. Simaklah tulisan Imam An - Nawawi dalam At Tibyan mengenai sifat shalat malamnya Utsman Bin Affan, Abdurrahman Bin Auf, Tamim Ad Dari, JUga slalafushalih lainnya yang mampu mengkhatamkan Al - Qur'an dalam Tahajjud mereka. Maasya Allah.


      3. Memperbanyak Do'a.

          Para ahli Al - Qur'an di anjurkan memperbanyak do'a khususnya dalam waktu mustajab, agar Allah Ta'alaa berkenan menjaga ayat - ayat sucu dalam dirinya serta mampu mengamalkannya dalam kehidupan. Saat - saat sujud, sepertiga malam terakhir, juga pasca muraja'ah, ialah diantara momentum terbaik dalam berdo'a.


      4. Semangat Beramal.

          Ini adalah bagian terpenting yang sangat di tekankan oleh Al - Qur'an dan As - Sunnah, serta cara terbaik dalam menjaga hafalan. Bagian ini pula yang dapat jaminan langsung dari Al - Qur'an dan Sunnah sebagai hamba terbaikyang memiliki karunia terbesar. Dzalika huwal faudhul kabiir, hal itu ialah karunia yang amat besar. Demikian penegasan Allah Ta'alaa di akhir ayat 32 Surat Fathir itu. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda :


خيركم من تعلم القرآن وعلمه

Artinya : " Yang terbaik di antara kalian ialah orang yang mempelajari Al - Qur'an dan mengajarkannya "    ( HR. Al Bukhari )


Berdasarkan petunjuk ini,para ahli Al-Qur'an dapat menjaga hafalan dengan cara mengajarkan kembali, menjadi imam dalam sholat, atau mempraktekkan kandungannya dalam amalan harian.

demikian diantara amalan pasca hafalan sebagai kiat efektif dalam menjaga ayat-ayat Al-Qur'an yang telah dihafal. pembaca dapat merujuk keterangan para Ulama dalam hamparan kitab lainnya. Wallahu 'alam bis shawwab.








Sumber dari " Metode At Taisir 30 Hari Hafal Al - Qur'an " Karya Ustadz Adi Hidayat Lc.


Wednesday, October 31, 2018

Perusak Hafalan Al - Qur'an

          Tulisan Harian Santri - Bagian ini akan mengurai perlbagai hal yang dapat merusak hafalan, bahkan mampu menghilangkannya. Para penghafal mesti mendalami bahasan ini agar selalu waspada dan mampu menghindarinya. Berikut di antara hal yang di maksud :



1. Perbuatan Maksiat

          Ini adalah hal yang paling tercela bila di kerjakan oleh penghafal Al-Qur'an selain berpotensi merusak dan menghilangkan hafalan, perilaku ini juga di sebut sebagai orang dzalim yang amat merugi. Firman Allah Ta'alaa dalam Al-Qur'an :

وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Artinya :" ... Tidaklah Al-Qur'an menambah kepada orang-orang zhalim sealin aneka kerugian. "  (QS. Al-Isra' : 82 )


Karena itu, hendaknya ahli Qur'an menjaga seluruh tubuhnya dari perbuatan maksiat, dari kepala hingga ujung kaki. Jadikanlah setiap ayat Al-Qur'an sebagai pedoman beraktifitas. Kita yang telah hafal ayat tentang mata misalnya, maka jadikanlah ia pedoman dalam memandang. Demikian ayat tentang telinga, lisan hingga ujung kaki.

Termasuk perbuatan maksiat yang tercela ialah meminta tarif dalam mengajar atau mendakwahkan isi Al-Qur'an. Hal ini bahkan tegas dilarang oleh Al-Qur'an, sebagi berikut :


وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ

" dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. "
( QS. Al-Mudatsir : 6 )

Penjagaan terhadap maksiat juga mendapat perhatian serius dari Imam An-Nawawi rahimahullah. Beliau menulis di dalam At-Tibyan sebagi berikut :

" Dan hendaklah penghafal Al-Qur'an menyucikan hati dari segala noda agar Al-Qur'an dapat mudah di terima, di jaga, serta di ambil manfaatnya. "



2. Kurang Muraja'ah

          Hal selanjutnya yang dapat merusak atau bahkan menghilangkan hafalan ialah kurangnya muraja'ah, waktu khusus untuk mengulang hafalan. Ini dapat terjadi pada penghafal kala sibuk beraktifitas hingga tidak disiplin dalam mengulang hafalan. Ironisnya, adapula penghafal yang kehilangan hafalannya karena terlampau sibuk mengajar.



3. Ujub Dan Riya'

          Dua penyakit ini mendapat perhatian serius dari para ulama, khususnya para ahli Qur'an. Sifat Ujub dab Riya' adalah senyawa bathil yang mampu menghanyutkan ayat-ayat suci yang telah terpatri dalm jiawa. Keduanya seringkali di tanamkan setan kala penghafal Al-Qur'an mulai tampil di hadapn publik ataupun " Rajin Bermushabaqah " Imam An-Nawawi mengingatkan para penghafal untuk berhati-hati dengan penyakit ini. Beliau menulis dalam At-Tibyan sebagi berikut :


" Hendaknya para siswa selalu mengingatkan diri bahwa Al-Qur;an yang telah ia raih adalah titipan Allah Ta'alaa, bukan atas kehebatan dan kemampuannnya dalam meraih hal tersebut, maka seorang yang di titipi tidaklah pantas merasa Ujub, sombong atas hal yang bukan miliknya. "


Demikian diantara perbuatan yang dinilai dapat merusak atau bahkan menghilangkan hafalan. Sekali lagi, para ahli Al-Qur'an mesti terus waspada dan berusaha menghindarinya. Semoga Allah Ta'alaa senantiasa menjaga kita dari pelbagai keburukan yang di maksud. Allah Musta'an.












Sumber dari buku " Metode At Taisir 30 hari hafal Al-Qur'an, Karya ustadz Adi Hidayat Lc.


Penerapan Tauhid Dalam Kehidupan.

   Tulisan Harian Santri - Pengertian Tauhid Tauhid (Arab : توحيد ) dilihat dari segi Etimologis yaitu berarti ”Keesaan Allah”, mentauhi...