Sunday, October 1, 2017

3 WASIAT NABI

3 Wasiat Nabi

Wiwit Hardi Priyanto / 7 Mei 2015

Kita mungkin pernah mendengar istilah ulama menyebut “Jawami’ul Kalim”. Istilah itu memiliki makna: bahasa yang singkat, namun punya makna yang sangat mendalam. Hal inilah yang sering kita jumpai dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satunya dalam hadits berikut,

عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ ” [رواه الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح]

“Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdirrahman Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskan (keburukan). Dan pergauilah manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. At-Tirmidzi, dan dia berkata: Hadits Hasan Shahih).

Dalam hadits di atas, terkandung 3 wasiat Nabi yang sangat penting, baik hubungan manusia kepada Allah maupun hubungan manusia ke sesama manusia.

1. Perintah Takwa dimana pun kita berada

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ

Nabi tidak hanya memerintahkan takwa semata, namun bertakwa dimana pun kita berada, baik di tengah keramaian maupun di sunyi bersendirian. Inilah takwa yang sebenar benarnya, dan takwa yang paling berat.

Sebagaimana kata Imam Syafi’i rahimahullah

وقال الشافعي : أعزُّ الأشياء ثلاثة : الجودُ من قِلَّة ، والورعُ في خَلوة ، وكلمةُ الحقِّ عند من يُرجى ويُخاف

Imam Syafii mengatakan, “Perkara yang paling berat itu ada 3, dermawan saat memiliki sedikit harta, meninggalkan hal yang haram saat sendirian dan mengatakan kebenaran saat berada di dekat orang yang diharapkan kebaikannya atau ditakuti kejahatannya” (Jami’ Ulum wa Hikam 2/18).

Ketika seorang bersendirian, menyepi tanpa ada yang mengetahui, maka hal itu akan mendorongnya untuk lebih mudah bermaksiat. Kecuali ia sadar betul bahwa Allah senantiasa mengawasinya, dan rasa takutnya menjadi lebih besar sehingga ia tidak berani melakukan kemaksiatan.

Contoh mudah adalah orang yang sedang berpuasa. Ketika berada di khalayak ramai, ia menahan diri dan mengaku berpuasa. Namun ketika bersendirian, ia diam-diam berpuka puasa. Hal ini tidak akan terjadi kecuali ia memiliki rasa takut yang besar kepada Allah.

2. Segera lakukan amal shalih

وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَ

Hadits di atas menjelaskan perintah untuk bersegera melakukan kebaikan tatkala terjerumus dalam keburukan. Tidak seperti anggapan sebagian orang, jika sudah terciprat, maka tercebur sekalian saja biar basah. Hal ini adalah anggapan yang sangat keliru. Bahkan hadits yang mulia ini menjelaskan perintah untuk segera bertaubat. Karena taubat adalah bagian dari amal shalih yang paling mulia dan harus disegerakan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

Hadits di atas juga menerangkan bahwa perbuatan baik yang dilakukan, akan menghapuskan dosa. Tentunya dosa yang terhapus hanyalah dosa kecil, karena dosa besar hanya terhapus jika pelakunya benar-benar telah bertaubat.

Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضاَنُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

“Shalat 5 waktu, dari Jumat ke Jumat selanjutnya, serta Ramadhan ke Ramadhan adalah sebagai penghapus dosa di antara waktu itu, selama menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim No. 233).

Sehingga jelaslah bahwa yang dihapus hanyalah dosa kecil saja. Oleh karena itu, ketika seorang muslim terjerumus dalam dosa dan maksiat, maka wajib baginya untuk segera bertaubat dan melakukan amal shalih.

3. Akhlak Mulia kepada manusia

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Wasiat yang terakhir adalah perintah untuk berakhlak yang mulia kepada sesama manusia. Setelah 2 wasiat di atas menyebutkan perintah yang berhubungan antara Allah dan manusia. Contoh gampang dalam berakhlak mulia adalah senyuman yang diiringi wajah yang berseri dan bertegur sapa ketika bertemu.

Oleh karena itu, Rasulullah mengkaitkan antara akhlak dengan iman yang sempurna. Dimana Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya.” (HR. At-Tirmidzi No. 2612, ia berkata: Hadits Shahih).

Bahkan dalam hadits lain juga disebutkan bahwa orang yang paling dekat dengan Rasulullah pada hari kiamat adalah yang paling bagus akhlaknya. Orang yang memiliki akhlak mulia, tidak hanya dicintai oleh Rasulullah, namun ia akan dicintai oleh manusia yang lainnya.

Penutup

Sebagai penutup dan nasihat untuk diri sendiri, maka jagalah 3 wasiat yang berharga ini. Wasiat yang di dalamnya terdapat hablumminallah dan hablumminannas. Sehingga kita dapat menjadi insan yang dicintai oleh Allah, Rasulullah dan manusia.

Wallahul Muwaffiq.

Penulis: Wiwit Hardi P.

Artikel Muslim.Or.Id

Friday, September 22, 2017

Ku Tinggalkan dirimu karena Allah

--Masih ada rasa cinta yang tertancap di hati ini. Dulu mencintai mu adalah alasan agar aku dekat kepada Allah, dulu mencintai mu adalah sesuatu yang amat ter indah untuk ku, dulu mencintai mu bisa menggerakkan keinginan ku untuk selalu semangat dalam melakukan sesuatu.
  Akan tetapi itu hanya bahasa Dulu. Dulu yang mengubah kini, kini ku hanya memasrahkan kehendak Nya sahaja.
Akan tetapi ketahuilah, bahwa yang kita lakukan itu adalah salah, jika engkau juga demikian.
Mungkin hati kecil mu tahu bahwa cinta yang belum halal akan kalah dengan yang halal.
Karena di sana tidak ada ridha nya sang khalik, tapi mengapa engkau bersedih jika dirimu sudah tahu demikian. Apa yang harus di sedih kan, karena jika diri ini melepaskan mu maka tidak ada lagi dosa yang di perbuat antara kita bukan..?
Itu adalah jalan yang Allah tunjuki kepada kita.
Bahwa Allah menyuruh agar tidak mendekati zina, yaitu zina hati, mata, pendengaran atau hal lain nya yang mengundang zina itu sendiri.
Maka ketahuilah wahai diri yang dulu ku cintai yang berlandaskan mencintai karena Nya. Bahwa yang telah kita lakukan adalah salah.
Kenapa, karena Cinta itu pun belum di ridhai, oleh Allah, dan kedua orangtua kita. Tahukah cinta yang diridhai itu..?
Yaitu setelah terucapnya perjanjian Akad yang indah, oleh lantunan suara dari hati yang ikhlas.
Lalu kenapa engkau masih sedih..?
Karena sesungguhnya engkau belum mengerti apa itu cinta.
Maka dari itu, mari kita sama-sama belajar dahulu mencintai sang khaik, mencintai nya dengan sepenuh hati, yang dengan cinta nya tak ada orang yang tersakiti, maupun hati itu sendiri.

Sebelum mencintai seseorang karena Nya. Sungguh skenario nya sangatlah indah jika kita bergantung kepada Allah.

Ku tinggalkan engkau karena Allah.
Dan ku berharap semoga engkau menjadi seseorang yang kelak dengan sebenar benar nya mendekatkan diri ini kepada Allah.

#PemudaHijrah
@Muhammad_Tirmidzi_lc

Tuesday, September 19, 2017

HUBBUD DUNYA


         __Kepada hati yang selalu rindu kepada Nya. Dalam perjalanan yang penuh perjuangan ini tak tahu apa yang akan terjadi untuk yang kedua kali nya. sebuah kisah yang penuh dengan lirih tangisan di setiap bait-bait nya. entah apa yang di rasakan oleh hati ini. terasa riuh dan sangat berliku untuk di ceritakan.
HUBBUD DUNYA.
_yaitu cinta kepada dunia, itu sangatlah menghalangi para penuntut ilmu, yang seharusnya meluruskan niat karena Allah.sedih bila rasa hati terkena penyakit ini. dalam sedu tangis ini, memperbaiki niat hanya kepada Allah. keistiqamahan yang telah kita lakukan akan berasa tidak ada apa-apa nya yaitu dalam taat kepada Nya. kita lupa dengan apa yang di janjikan Allah, karena kecintaan kepada dunia.

Allhamdulillah jika Allah masih menuntun kita agar bisa kembali kepada Nya. sungguh Allah menarik dengan lembut orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk selalu taat kepada Nya. Tanda bahwa Allah sayang keapda hambanya adalah Dia memberikan ujian  kepada kita, Allah ingin menguji seberaapa dekatkah Allah dalam diri Nya. Maka di saat seperti itu teruslah ingat kepada Allah, sungguh Allah maha pengasih lagi maha penyayang kepada hamba nya.

Jangan berputu Asa dari Rahmat Nya yang maha luas. seburuk apapun kita di masa lalu, Allah akan tetap mengampuni dosa-dosa kita walau dosa-dosa kita sudah memenuhi langit dan bumi. Allah akan mengampuni nya. yaitu dengan taubat yang sebenar benar nya, akan tetapi jangan berputus Asa jika dosa itu tak sengaja kita lakukan kembali, terus lah meperbaiki diri, teruslah bertaubat. jangan bersikap nanti-nanti dalam bertaubat kepada Nya. karena Rahmat Allah sangat lah luas.

selalu berhusnudzon kepada Allah, dengan husnudzon yang baik-baik. karena Allah tergantung prasangka hambanya. jika kita berhusnudzon yang baik-baik keda Allah, maka Allah pun akan berhusnudzon baik pula kepada  kita, namun bila kita berhusnudzon buruk kepada Nya maka Allah pun demikian. Jadi mulai lah dari sekarang kita belajar untuk selalu berhusnudzon baik kepada Nya.

Baik nya hadirkan rasa sabar dalam hati, bila ujian itu tak kunjung usai dalam kehidupan kita. percayalah niscaya  Allah akan memberikan hadiah yang terbaik, entah itu diberikan di dunia maupung di akhirat kelak. in sya Allah.
Wallahu 'Alam

Baarakallahufiikum

@muhammad_tirmidzi_lc





Sunday, September 17, 2017

PERHATIKAN, BAGAIMANA KAH AKHIR DARI AMALMU ?

Tidak diragukan lagi, akhir (penutup) dari amal-amal kita adalah perkara yang sangat penting.
Para salaf rahimahumullah senantiasa memperhatikan akhir dari suatu amal, dalam rangka mencontoh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dan juga untuk mengamalkan firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka”
(QS. Al-Mu’minuun [23]: 60).

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menggambarkan para hamba-Nya yang beriman bahwa mereka memberikan (melaksanakan) berbagai amal ibadah dan ketaatan secara sungguh-sungguh.
Mereka juga sangat takut kepada Allah Ta’ala, karena mereka tidak tahu, apakah amal mereka akan diterima ataukah tidak.
Oleh karena itu, seorang hamba tidak boleh bangga dengan amalnya, sebanyak apa pun amal yang telah dikerjakannya.
Jika amal tersebut tidak diterima oleh Allah Ta’ala, amal tersebut tidak ada faidahnya. Sebanyak apa pun amal yang telah dikerjakannya, namun jika tidak diterima oleh Allah Ta’ala, maka hanya bagaikan debu yang berterbangan.

Jika suatu amal diterima oleh Allah Ta’ala, meskipun amal itu hanya sedikit, Allah Ta’ala akan melipatgandakan pahalanya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah.
Dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar”
(QS. An-Nisa’ [4]: 40).

Allah Ta’ala lebih mengetahui keadaan niat dan keikhlasan seorang hamba dalam beramal.
Oleh karena itu, seorang hamba harus mencurahkan segala usaha untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas amalnya. Kita yakin bahwa Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan pahala dari orang yang beramal sedikit pun.
Wajib atas seorang hamba untuk memperbanyak amalnya, mengikhlaskan niatnya, mengharap pahala dari Allah Ta’ala dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia”
(QS. Al-Baqarah [2]: 143).

Berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala hanya akan menjadi penghalang antara seorang hamba dengan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’”
(QS. Az-Zumar [39]: 53).

Di sisi lain, seorang hamba tidak boleh bangga dan kagum dengan amalnya atau merasa telah banyak beramal. Akan tetapi, dia senantiasa berdoa kepada Allah Ta’ala untuk menerima amalnya dan mengiringi setiap amalnya dengan istighfar, memohon ampun kepada Allah Ta’ala.
Karena manusia adalah tempat salah dan lupa.
Sebanyak apa pun amalnya, akan tetapi pasti di dalamnya terdapat berbagai cacat dan kekurangan. Sehingga dia berusaha menutup kekurangan tersebut dengan istighfar. Dengan kata lain, seorang muslim hendaknya menghitung kejelekan-kejelekannya, dan tidak menghitung amal kebaikannya. Hendaknya dia menghisab dirinya, menghitung-hitung kesalahan dan dosanya, kemudian beristighfar dan bertaubat.

Allah Ta’ala berfirman,

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

“Dan dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya, memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan”
(QS. Asy-Syuura [42]: 25).

Oleh karena itu, hendaknya seorang hamba memperbanyak istighfar di akhir setiap amal ibadah dan ketaatan.
Dia tidak menganggap dirinya telah melaksanakan amal tersebut dengan sempurna sesuai tuntutan syariat. Akan tetapi dia tidak tahu, bisa jadi dalam amal tersebut ada banyak kekurangan. Sehingga dia pun memperbanyak istighfar dan taubat, serta menganggap bahwa amalnya tersebut sangat kecil di sisi Allah Ta’ala.

***

Diselesaikan ba’da ashar, Rotterdam NL 7 Dzulqa’dah 1438/30 Juli 2017

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis : Muhammad Saifudin Hakim

Artikel : Muslim.or.id

Catatan kaki :

[1]    Disarikan dari kitab Majaalisu Syahri Ramadhan Al-Mubaarak, karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, hal. 113-116
(cet. Daar Al-‘Ashimah, tahun 1422)

Alhamdulillah bermanfaat

Dikirim dari aplikasi android muslim.or.id http://bit.ly/MuslimOrid

Saturday, September 16, 2017

ADAB-ADAB PENCARI ILMU

ADAB-ADAB SEORANG THALIB (PENCARI ILMU) TERHADAP DIRINYA
.
🐝 Membersihkan hati dari kedengkian, dendam dan hasad serta jeleknya keyakinan atau akhlak agar dengan itu dapat menerima ilmu dan menghafalnya dengan baik
.
🐝 Memiliki niat yang baik dalam thalabul ilmi dengan bertujuan meraih keridhoan Allah Ta’ala dan mengamalkanya serta menghidupkan sunnah, menerangi hatinya dan mengisi batinnya
.
🐝 Bersegera untuk mencapai ilmu di waktu muda, jangan terpengaruh dengan tipuan orang-orang yang mengulur-ngulur (waktunya) karena setiap waktu yang telah lewat dari umur tidak ada penggantinya
.
🐝 Merasa cukup dengan makanan yang didapat dan pakaian yang dimiliki meski telah usang.
Kesabaran atas kesulitan hidup akan meraih keluasaan ilmu
.
🐝 Membagi waktu malamnya dan siangnya, serta memanfaatkan sisa umurnya, sebab umur yang tersisa itu tiada taranya. Waktu yang paling baik untuk menghafal adalah waktu sahur (menjelang subuh), dan untuk mempelajari sesuatu adalah pagi-pagi, adapun untuk menulis adalah pertengahan siang sedang untuk menela’ah dan mengulang pelajaraan adalah malam hari
.
🐝 Mengurangi waktu tidur selama tidak membahayakan badan dan pikirannya, (hendaknya) waktu tidur tidak lebih dari delapan jam sehari dan semalam
.
🐝 Diantara sebab terbesar yang dapat membantu agar (selalu) sibuk dengan ilmu dan tidak bosan ialah makan dengan kadar yang ringan dari yang halal, karena banyak makan dapat mendorong untuk banyak minum kemudian menyebabkan banyak tidur dan kebodohan
.
🐝 Menumbuhkan sikap wara’ dalam segenap urusannya dan berusaha agar makanannya, minumannya, pakaiannya dan tempatnya (senantiasa) halal
.
🐝 Seorang thalabul ilmi sepatutnya tidak bergaul kecuali dengan orang yang dapat memberinya faedah atau dapat mengambil faedah darinya
.
🐝 Menjauhi perkara yang sia-sia dan main-main serta majlis-majlis yang dipenuhi dengan tertawa dan hal yang tiada guna. Tidak mengapa untuk menghibur jiwa, hati dan pandangannya dengan bertamasya ke suatu tempat, tidak mengapa pula menyegarkan kaki dan berolah raga badan
.
📝 Disusun oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary (Dari Kitab Min Hadyi as-Salaf  Fii Thalabil Ilmi. Hal. 47-55)
.
Sumber : Salafy Indonesia

HATI YANG SEMPIT

--Ketika hati ini sempit oleh masalah dunia. Yang tak kunjung henti dalam setiap langkah, yang membuat sesak dada ini, yang membuat diri tidak karuan dan sebagainya.
Dalam hal ini memang lah sangat mempengaruhi hidup. Baik rohani maupun jasmani... Akan tetapi tahukah kita..?
Karena apa penyebab dari itu semua...?
Terkadang kita berfikir, bahwa masalah dunia dapat di selesaikan dengan masalah dunia pula.
Anggapan ini sangatlah salah, karena pada hakikat nya jasmani kita sehat, ana tetapi rohani kita sakit.
Pada saat itu kita mencari jalan untuk keluar, atau menyerah begitu saja. Dalam hal ini adalah tergantung pada kemauan kita dan yang terpenting Do'a yang selalu menyertai karena tidak ada daya dan kekuatan kecuali semua dari Allah ta'alaa. Berharap lah kepada Nya, in sya Allah masalah mu akan selesai. Katakan pada masalah mu, "Wahai masalah besar, aku mempunyai Allah yang maha besar"

Yaitu karena Kita kurang dekat dengan Allah. Atau apabila kita sudah berusaha dekat dengan Allah, kemudian Allah memberikan ujian yang begitu hebat, ketahuilah bahwasanya  Allah sedang menguji keimanan mu, agar selalu dekat dengan Allah yang maha menyelesaikan masalah.

~Seorang imam berkata "Apabila di dalam hatiku terasa sempit oleh fana nya dunia ini, maka aku membaca beberapa lembar Al Qur'an, dan selang beberapa lama maka Allah memberikan ku Rizki, ilmu, dan pemahaman"
Yang artinya dengan Al Qur'an sebagai petunjuk dan kebutuhan kita sehari hari. Jangan terlepas dari lengah karena masalah mu. Sesungguhnya Allah sudah memberikan buku petunjuk untuk kehidupan ini.
Jadi, jangan berputus asa dari Rahmat Nya yang begitu luas tak terhingga. Apapun yang kita butuhkan Allah akan memberikan nya. Kalaupun tidak sungguh Allah lebih mengetuai setia hati manusia dan juga dalam hal kehidupan ini.
Mari kita kembali kepada Allah, dzat yang maha pengasih lagi maha penyayang kepada hamba-hamba nya.
Karena di dunia ini kita hanya sedang bercocok tanam, Nanti di Akhirat kita akan memanen nya, maka tanam lah yang baik-baik, jangan menanam yang buruk-buruk. Sungguh kita Akan mendapatkan apa yang kita tanam di dunia ini.
Wallahu 'Alam

@Muhammad_Tirmidzi_lc

Thursday, September 14, 2017

MEMASRAHKAN KEHENDAK NYA

Kau boleh saja menemukan sahabat baru dalam perjalananmu.
Yang lebih baik dan lebih setia dariku.

Kau boleh saja bercerita tentang hal indah yang ada pada sahabat barumu.
Yang membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Tetapi dimasa lalu mu pernah ada sahabat-sahabat yang tulus membersamaimu.

Yang membantumu bangkit dari kegagalanmu.

Yang menyemangatimu saat kemalasan menggerogoti hari harimu.

Yang membuatmu mampu tersenyum diatas puing puing ujian.

Yang membantumu mewujudkan keinginannmu walau hanya sebatas doa.

Dan mereka yang tak pernah meninggalkanmu walau sudah tahu tentang aib aibmu.

Ketika mereka mengetahui kekuranganmu, mereka menggenggam erat tanganmu dengan harapan kau bisa berjuang melawan kegagalan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam perihal agama, akhlak terhadap manusia dan juga prestasi akademikmu.

Walau pun kau temukan sahabat baru yang jauh lebih baik dari sebelumnya,
tetaplah ingat kenangan indah yang pernah kau lukis bersama sahabat lamamu,
yang mungkin saja tak pernah tercipta dari sahabat barumu.

Dalam kenangan masa lalumu, ada kebahagiaan dicampur kekonyolan tak terbilang yang pernah mereka ciptakan.
Tanpa ada kepentingan melainkan hanya mengingibkan kebersamaan.

Kebersamaan yang kau sebut persahabatan. -Mengenang masa - ( @fadhilazlfsy_ | @tintahijrah )

#ntms
#ummuhaura
#sahabat
#tintahijrah

Penerapan Tauhid Dalam Kehidupan.

   Tulisan Harian Santri - Pengertian Tauhid Tauhid (Arab : توحيد ) dilihat dari segi Etimologis yaitu berarti ”Keesaan Allah”, mentauhi...